Pemicu awalnya adalah insiden pengeroyokan seorang satpam perumahan berinisial MA pada 21 Juli 2026. Peristiwa itu terjadi setelah MA melerai cekcok pasangan suami istri di kawasan Tatura Utara. Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi ketegangan antarkelompok warga.
Bentrokan susulan tercatat terjadi pada 6 Agustus dan 4 September 2026. Situasi kembali memanas pada Rabu (28/10/2026), ketika warga dari kedua kelompok terlibat aksi saling serang.
Insiden terbaru berlangsung dalam dua gelombang, yakni sekitar pukul 03.00 WITA dan kembali memanas pada sore hari sekitar pukul 17.00 WITA. Dalam sejumlah bentrokan, massa dilaporkan menggunakan batu, petasan, busur panah, senjata tajam, hingga senapan angin yang dimodifikasi.
Akibat bentrokan terbaru, satu warga dari kelompok Anoa dilaporkan meninggal dunia. Beberapa warga lainnya mengalami luka pada bagian kaki dan lengan. Selain itu, satu warung nasi goreng milik pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut terbakar.
Kapolresta Palu Kombes Pol Hari Rosena mengakui situasi sempat sulit dikendalikan karena jumlah massa yang terlibat jauh lebih banyak dibandingkan personel yang berada di lokasi. โKita mundur sudah tidak bisa karena jumlah kita kalah. Akhirnya ada satu meninggal, kemudian beberapa luka di kaki dan lengan,โ ujarnya di lokasi kejadian.
