Tidak ada yang salah dengan menghadirkan hiburan. Tetapi ada yang keliru apabila pemerintah tampak lebih siap menghibur masyarakat daripada memenuhi kebutuhan paling dasar mereka.
Rakyat tidak pernah meminta jalan bertaraf internasional. Mereka hanya meminta jalan yang bisa dilalui. Mereka tidak meminta stadion megah. Mereka hanya meminta jembatan yang aman untuk anak-anak berangkat sekolah dan petani membawa hasil panen.
Peristiwa di Lontos dan Masungkang semestinya dibaca sebagai kritik terhadap cara pemerintah menentukan prioritas. Bukan berarti proyek-proyek besar harus dihentikan, melainkan pembangunan harus kembali berpijak pada kebutuhan yang paling mendesak.
Karena ukuran keberhasilan pemerintahan bukanlah berapa banyak bangunan baru yang berdiri, melainkan berapa sedikit warga yang harus memprotes agar hak-hak dasarnya dipenuhi.
Masih ada waktu bagi Pemerintah Kabupaten Banggai untuk memperbaiki arah. Yang dibutuhkan bukan sekadar klarifikasi atau penjelasan, tetapi keberanian menata ulang prioritas dan menyelesaikan janji-janji yang sudah telanjur diucapkan.
Sebab rakyat tidak pernah menolak pembangunan. Yang mereka tolak adalah ketika pembangunan kehilangan rasa keadilan. Dan tidak ada kesan yang lebih buruk bagi sebuah pemerintahan selain terlihat jemawa di tengah janji yang tak kunjung tunai.(*)
