Berita Utama

Jalan yang Diam-diam Kami Doakan

Melalui jalan inilah anak-anak berangkat ke sekolah, membawa mimpi dan harapan masa depan. Jalan ini pula yang dilalui warga menuju puskesmas saat membutuhkan layanan kesehatan. Tak kalah penting, jalan tersebut menjadi jalur ekonomi bagi petani dan pedagang untuk menjual hasil kebun ke pasar. Ketika akses ini terganggu, maka pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat ikut terdampak.

Secara geografis, jarak ke ibu kota kabupaten hanya sekitar 40 kilometer. Di atas peta, jarak itu terlihat dekat. Namun dalam realitas sehari-hari, terutama saat hujan turun, jarak tersebut terasa jauh dan melelahkan. Kendaraan sering kali harus berhenti, memilih antara melanjutkan perjalanan atau menunggu kondisi memungkinkan.

Masyarakat jarang mengeluh secara terbuka. Bukan karena tidak merasakan lelah atau kecewa, melainkan karena kekhawatiran dianggap tidak sabar atau terlalu menuntut. Namun penting dipahami, kesabaran tidak sama dengan pasrah tanpa harapan. Kesabaran justru berjalan berdampingan dengan ikhtiar dan doa.

Harapan masyarakat sesungguhnya sederhana. Mereka percaya bahwa pemerintah memiliki niat baik untuk membangun daerah secara merata. Dengan adab dan keyakinan, masyarakat berharap agar jalan poros Lontos–Indang Sari–Lauwon tidak lagi dipandang sebagai persoalan kecil yang cukup ditangani sementara, melainkan sebagai kebutuhan mendasar yang harus dibangun secara serius dan berkelanjutan.

Bagikan: