Berita Utama

Hadianto–Pasha: Tes Ombak atau Mulai Konsolidasi?

Jadi, di atas kertas, pasangan ini rasa-rasanya sangat menjual. Hadianto menawarkan pengalaman pemerintahan dan basis akar rumput lokal. Pasha menawarkan magnet elektoral dan akses nasional. Satu figur dianggap kuat mengurus pemerintahan, satu lagi kuat mengangkat popularitas.

Namun. lagi-lagi politik tidak hanya soal figur. Problem terbesar justru ada pada kendaraan partai. Hanura dan PAN di DPRD Sulteng pasca Pemilu 2024 hanya mengoleksi total tiga kursi. Jauh dari syarat minimal pencalonan gubernur yang membutuhkan sekitar 11 kursi. Artinya, tanpa koalisi besar, pasangan ini hanya akan menjadi wacana media sosial.

Karena itu, jika duet ini benar-benar disiapkan, maka pertarungan sebenarnya bukan dimulai di rakyat, tetapi di meja lobi partai. Golkar, NasDem, Demokrat, bahkan PKB dan PPP bisa menjadi penentu hidup-matinya poros ini. Apalagi peta Pilgub Sulteng ke depan diperkirakan tetap keras. Figur petahana dan tokoh-tokoh lama masih memiliki pengaruh kuat.

Di sinilah mulai muncul spekulasi lain.

Apakah kemunculan wacana Hadianto–Pasha hanya sebatas testing the water, “tes ombak”? Atau jangan-jangan memang sedang ada konsolidasi diam-diam membangun poros baru di luar dominasi kekuatan lama Sulteng?

Bagikan: