Teknologi, dengan demikian, tidak mengubah hakikat sebuah pemberian. Ia hanya mengubah cara pemberian itu dilakukan.
Dulu, orang mungkin datang membawa amplop. Sekarang, pemberian dapat hadir sebagai animasi kecil di layar.
Banyak Akun Tidak Selalu Berarti Banyak Pemberi
Masalahnya, ruang digital memiliki karakter yang berbeda. Identitas dapat disamarkan, dibuat berlapis, bahkan digandakan. Satu orang dapat memiliki banyak akun. Nama akun tidak selalu menunjukkan identitas pemiliknya. Beberapa akun bahkan dapat dibuat sedemikian rupa sehingga tampak seperti banyak orang yang berbeda.
Bayangkan seorang pejabat sedang melakukan live. Dalam waktu singkat muncul seratus akun yang memberikan gift. Secara visual, seratus orang tampak memberikan dukungan.
Tetapi secara ekonomi, belum tentu demikian.
Bisa saja seratus akun tersebut dikendalikan oleh satu orang atau satu kelompok.
Di sinilah pengawasan gratifikasi memasuki persoalan baru. Pemeriksaan tidak cukup berhenti pada nama akun yang muncul di layar. Yang perlu ditelusuri adalah siapa pengendalinya, dari mana dana pembelian coin berasal, bagaimana pola transaksinya, dan apakah terdapat hubungan antara pemberi dengan pejabat penerima.
Persoalannya menjadi semakin penting ketika pemberi memiliki kepentingan yang berkaitan dengan kewenangan pejabat.
