Iklan Banggai Post
Opini

Para Calon Pemilih yang Diam di Medsos, Tapi Idealis di Bilik Suara?

Diam bukan berarti tidak melihat. Bahkan algoritma mungkin justru mengetahui mereka lebih baik daripada orang-orang di sekitarnya. Apa yang ditonton, berapa lama berhenti pada sebuah video, apa yang dicari, dan apa yang dilewati, semuanya meninggalkan jejak.

Di sinilah fenomena tersebut menjadi menarik jika dikaitkan dengan politik. Anak-anak Gen Z yang hari ini tampak apatis terhadap percakapan publik di media sosial, sekitar 2029–2030 akan mulai menjadi pemilih pemula. Mereka mungkin tidak sibuk membuat konten politik, memasang simbol calon, atau terlibat dalam perang komentar.

Tetapi mereka tetap melihat. Menyimak. Membandingkan. Dan mungkin, diam-diam mengambil keputusan.

Mereka mungkin tidak mengatakan siapa yang mereka dukung. Tidak memasang foto calon pilihannya. Bahkan tidak pernah berkomentar. Tetapi bukan berarti mereka tidak memiliki penilaian.

Di penghujung wawancara, saya bertanya kepada anak saya:  “Kalau besok kau memilih pemimpin, seperti apa yang kau pilih?” Jawabannya pendek, agak ketus. “Yang pintar. Jelas visi dan misinya.”

Saya kejar lagi. “Taoi kalau ada calon lain di luar standarmu itu yang menawarkan uang?” Dia menjawab sambil tertawa: “Ambil uangnya saja. Tetap pilih yang pintar.” Dia terbahak dan melengos pergi.

Bagikan: