Iklan Banggai Post
Opini

Cinta Nabi Bukan Hanya di Bibir

Oleh: Supriadi Lawani


Kita sering mendengar ceramah: “Cintailah Rasulullah Muhammad ﷺ. Kita memang tidak pernah melihat beliau, tetapi kita mencintainya.”

Kalimat itu indah. Tetapi ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: bagaimana kita bisa mengatakan mencintai seseorang yang tidak pernah kita lihat, jika kita sendiri tidak berusaha mengenal dan meneladani kehidupannya?

Kita mengenal Nabi melalui ajarannya, akhlaknya, perjuangannya, dan keteladanannya. Karena itu, cinta kepada Nabi semestinya tidak berhenti pada rasa haru ketika namanya disebut, lantunan shalawat, atau air mata ketika mendengar kisah hidupnya.

Cinta semestinya mengubah perilaku.

Jika kita mencintai Nabi karena beliau mengajarkan kejujuran, maka cinta itu seharusnya terlihat ketika kita berhadapan dengan uang, jabatan, kekuasaan, dan kepentingan pribadi.

Jika kita mencintai Nabi karena beliau mengajarkan keadilan, maka kita seharusnya tetap adil meskipun keadilan itu merugikan diri sendiri atau orang yang kita cintai.

Jika kita mencintai Nabi karena beliau mengajarkan kasih sayang, maka kasih sayang itu seharusnya tidak hanya diberikan kepada orang yang sepemikiran dengan kita.

Jika kita mencintai Nabi karena akhlaknya, maka pertanyaannya sederhana: apakah akhlak kita menjadi lebih baik setelah mengenalnya?

Di sinilah barangkali kita perlu jujur melihat cara kita beragama.

Bagikan: