Berita Utama

Anak Indonesia, Poliglot Sejak Dalam Kandungan

Bayangkan anak SD di pelosok yang baru bisa menulis nama sendiri, kini diharapkan menghafal kata obrigado atau danke schön.
Sungguh, jika semangat ini diteruskan, anak Indonesia mungkin akan menjadi poliglot sejak dalam kandungan.

Pendidikan atau Parade Kebijakan?

Kita hidup di era ketika kebijakan sering diciptakan untuk tampil memukau di forum internasional.
Maka lahirlah jargon-jargon yang terdengar futuristik: transformasi digital, generasi global, inovasi pendidikan berbasis kecerdasan buatan.
Sayangnya, jargon tak selalu sejalan dengan realitas.

Guru masih bergulat dengan gaji rendah, kurikulum berubah tiap tahun, dan internet di banyak sekolah masih hidup-mati.
Tetapi di atas semua itu, kita terus menumpuk harapan di pundak anak-anak.
Seolah-olah masa depan bangsa bisa diperbaiki hanya dengan menambah satu mata pelajaran baru.

Anak-anak yang Kelelahan

Pendidikan kita sudah lama kehilangan keseimbangannya.
Kita memuja kecerdasan, tapi lupa kebahagiaan.
Kita menuntut kreativitas, tapi menakuti kesalahan.
Kita mengajarkan banyak hal, tapi jarang memberi ruang untuk bernapas.

Setiap tahun, beban akademik bertambah.
Anak-anak harus belajar lebih banyak, lebih cepat, lebih rumit.
Pagi belajar matematika, siang coding, sore bahasa asing.
Namun di antara semua itu, kapan mereka sempat bermain?

Bagikan: