Ia mendengar cerita tentang para kiai dari berbagai pelosok Indonesia yang datang membawa sumbangan untuk membantu negara. Mereka bukan pengusaha besar. Mereka bukan pemilik perusahaan. Mereka hanya membawa apa yang mereka miliki: anting-anting anak, gelang istri, dan perhiasan keluarga yang dikumpulkan dengan penuh keikhlasan. Totalnya sekitar 1,9 kilogram emas.
Kisah itu sampai ke telinga Murad Husain.
โMalunya saya,โ demikian pengakuannya kepada wartawan Ishak Rafick.
Kalimat singkat itu kemudian berubah menjadi tindakan nyata.
Murad Husain merupiahkan sekitar tiga juta dolar AS yang dimilikinya melalui Bank Dagang Negara Cabang Luwuk. Tidak berhenti di situ, ia juga menyumbangkan sepuluh ribu dolar AS untuk membantu negara.
Pada masa itu, jumlah tersebut tergolong luar biasa. Bahkan jika dibandingkan dengan sejumlah pengusaha besar nasional, kontribusi Murad berada di antara yang terbesar.
Namun yang membuat tindakannya istimewa bukanlah angka, melainkan alasan di baliknya.
Sebagaimana dicatat Ishak Rafick dalam buku Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia, Murad berkata bahwa para kiai yang datang menyumbang bukanlah pengusaha dan bukan pula pedagang. Jika mereka yang hidup sederhana saja rela memberikan apa yang dimiliki untuk negara, bagaimana mungkin para pengusaha tidak melakukan hal yang sama?
