IKLAN
Iklan BanggaiPost
Resensi Buku

ADI SAKA: Ketika Perjalanan Seorang Pelarian Berujung pada Takdir di Tanah Benggawi

Adi tidak lagi sekadar seorang pelarian dari Jawa. Ia tiba di sebuah negeri yang telah memiliki Tomundo, Basalo, klan, hukum, adat, dan tata kekuasaan sendiri.

Banggai bukan tanah kosong yang menunggu seorang penguasa.

Banggai adalah tanah yang memiliki sejarah dan ingatan.

Sebagai pendatang, Adi harus belajar memahami tatanan yang telah lebih dahulu hidup. Ia harus berhadapan dengan perbedaan kepentingan, membangun kepercayaan, dan mencari jalan untuk mempertemukan wilayah-wilayah yang memiliki identitas serta kepentingannya masing-masing.

Di sinilah perjalanan Adi berubah dari sekadar perjalanan seorang manusia menjadi perjalanan seorang pemimpin.

Di Lolantang, Pulau Peleng, di hadapan makam Tuan Fuadin, Adi mulai memahami bahwa tanah yang dipijaknya mungkin merupakan Benggawi yang selama ini hanya hidup dalam cerita leluhur.

Dan ketika nama Adi Saka akhirnya diteguhkan kepadanya oleh Tomundo dan Basalo, nama itu bukan sekadar gelar.

Ia adalah amanah.

Nama yang menghubungkan dua zaman.

Nama yang harus dibuktikan melalui tindakan, pengorbanan, dan keberanian untuk memahami tanah yang dipimpinnya.

Cinta, Kekuasaan, dan Harga Sebuah Pilihan

Bagikan: