IKLAN
Iklan BanggaiPost
Resensi Buku

ADI SAKA: Ketika Perjalanan Seorang Pelarian Berujung pada Takdir di Tanah Benggawi

Di tengah perjalanan politik dan perjuangan membangun hubungan antarkawasan, kehidupan pribadi Adi tidak pernah benar-benar tenang.

Hubungannya dengan Kastellia menghadirkan cinta yang tumbuh di tengah perang dan perbedaan dunia. Sementara Siti Aminah hadir dalam kehidupannya melalui ikatan pernikahan politik yang membawa konsekuensi panjang.

Cinta dan kewajiban saling berhadapan.

Kekuasaan menuntut pengorbanan.

Dan setiap keputusan meninggalkan seseorang yang harus menanggung akibatnya.

Karena itu, perjalanan Adi menuju takhta bukan perjalanan yang mudah. Ia harus menghadapi bukan hanya musuh di medan perang, tetapi juga luka yang lahir dari keputusan-keputusan yang pernah dibuatnya sendiri.

Takhta Bukan Sekadar Kekuasaan

Salah satu gagasan yang kuat dalam novel ini adalah tentang makna kepemimpinan.

Semakin dekat Adi dengan pusat kekuasaan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikulnya.

Pada akhirnya, ia memahami bahwa seorang pemimpin bukanlah orang yang membuat sebuah negeri bergantung kepadanya, melainkan orang yang mampu meninggalkan sebuah negeri yang tetap berdiri tanpa dirinya.

Karena itu, takhta dalam novel ini bukan hanya simbol kekuasaan.

Takhta adalah ujian.

Sementara Benggawi menjadi ruang tempat Adi harus membuktikan siapa dirinya sebenarnya.

Bagikan: