Buku Pertama Trilogi Benggawi
Resensi Novel “Adi Saka: Petualangan, Cinta dan Takhta Benggawi” karya Herdiyanto Yusuf
Ada perjalanan yang dimulai karena seseorang ingin menyelamatkan hidupnya. Namun, dalam perjalanan tertentu, seseorang justru menemukan takdir yang jauh lebih besar daripada alasan mengapa ia berangkat.
Itulah perjalanan Adi Cokro, tokoh utama dalam novel sejarah Adi Saka: Petualangan, Cinta dan Takhta Benggawi karya Herdiyanto Yusuf.
Novel ini membawa pembaca mengikuti perjalanan seorang lelaki dari tanah Jawa yang meninggalkan tanah kelahirannya di tengah konflik. Berbekal sebilah keris, ajaran gurunya, serta sebuah nama yang belum sepenuhnya ia pahami—Benggawi—Adi menyeberangi lautan menuju Ternate.
Di Ternate, ia masuk ke dalam pusaran perang melawan Portugis, kehidupan pelabuhan, intrik kekuasaan, serta lingkungan politik Sultan Baabullah. Di sana pula ia bertemu Kastellia, perempuan berdarah Portugis yang membuat perjalanan Adi tidak hanya menjadi kisah perang dan kekuasaan, tetapi juga kisah cinta yang penuh konsekuensi.
Namun, Ternate bukan akhir perjalanan.
Banggai: Tempat Seorang Pelarian Menemukan Takdir
Perjalanan Adi kemudian bergerak ke barat daya—menuju Banggai, Peleng, Motindok, dan Tompotika.
Di sinilah kisah berubah secara mendasar.
