Menurut penuturan sejumlah petani kepada BanggaiPost.com, pernah ada alsintan dari Banggai yang kemudian dijual ke luar daerah. Ada pula alat yang tetap berada di daerah, tetapi penggunaannya disebut lebih banyak dikuasai pihak tertentu dan disewakan kembali kepada petani.
Jika dugaan tersebut benar dan dapat dibuktikan, maka tujuan bantuan berpotensi berbalik arah. Petani yang seharusnya menjadi penerima manfaat justru kembali menjadi penyewa.
Bagi petani yang memiliki modal, membeli atau menyewa mesin mungkin masih menjadi pilihan. Namun bagi petani kecil, biaya sewa menjadi beban tambahan yang harus dikeluarkan setiap musim.
Karena itu, dugaan adanya mahar tidak bisa dilihat semata-mata sebagai persoalan satu transaksi. Jika untuk mendapatkan hand tractor petani harus menyediakan uang belasan hingga puluhan juta rupiah, atau sampai Rp150 juta untuk sebuah combine harvester, maka bantuan berpotensi hanya dapat dijangkau oleh mereka yang memiliki modal.
Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang sebenarnya paling menikmati program bantuan alsintan.
