Sementara itu, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, sebelumnya juga telah mengingatkan adanya potensi kemunculan El Niño sejak akhir Mei 2026.
“Potensi kejadian El Niño ini ada kemungkinan 60 persen itu terjadi di akhir Mei, Juni, Juli, dan Agustus,” katanya.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Sulawesi Tengah akan terjadi pada September hingga Oktober 2026.
Sejumlah dampak mulai diantisipasi pemerintah daerah, di antaranya potensi kekeringan meteorologis, penurunan debit sungai, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga ancaman terhadap sektor pertanian.
Wilayah yang dinilai rawan karhutla antara lain Kabupaten Parigi Moutong, Sigi, Poso, serta kawasan Lore Lindu. Selain itu, sekitar 24.903 hektare sawah di Sulawesi Tengah disebut masuk kategori rawan terdampak kekeringan.
Risiko lain yang turut diwaspadai yakni krisis air bersih dan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat asap kebakaran lahan.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Sulawesi Tengah bersama BMKG dan BPBD memperkuat langkah mitigasi dan koordinasi lintas sektor.
