Di balik potensi keuntungan negara, sektor swasta diperkirakan menjadi pihak yang paling merasakan dampak jangka pendek.
Sebab, perusahaan tambang dan perkebunan tidak lagi mengekspor langsung produknya ke pasar internasional. Posisi tersebut akan diambil alih DSI sebagai perantara tunggal.
Konsekuensinya, margin keuntungan eksportir berpotensi menyusut karena harga jual dan mekanisme perdagangan akan melalui satu kanal yang dikendalikan pemerintah.
Sejumlah analis pasar bahkan memperkirakan valuasi perusahaan-perusahaan batu bara dan sawit dapat mengalami tekanan jika ruang keuntungan mereka semakin terbatas.
Tidak mengherankan jika pengumuman kebijakan ini memicu kekhawatiran investor terhadap prospek emiten berbasis ekspor SDA.
Petani Sawit Ikut Cemas
Kekhawatiran tidak hanya datang dari korporasi besar.
Di tingkat akar rumput, petani sawit mulai mempertanyakan dampak kebijakan tersebut terhadap harga tandan buah segar (TBS).
Jika DSI memiliki posisi dominan sebagai pembeli utama rantai ekspor, muncul risiko harga di tingkat produsen menjadi lebih rendah dibanding mekanisme pasar sebelumnya.
Beberapa daerah penghasil sawit bahkan mulai melaporkan penurunan harga TBS setelah munculnya wacana eksportir tunggal.
