Dari sisi ekonomi, kelompok petani madu mampu memproduksi hingga 8.400 liter madu setiap tahun dengan melibatkan sekitar 245 anggota. Dampaknya tidak berhenti pada peningkatan pendapatan, tetapi juga melahirkan peluang usaha baru melalui jasa wisata, pemasaran madu, hingga pengelolaan kawasan konservasi.
Keberhasilan tersebut kemudian direplikasi ke sejumlah desa lain sebagai model pemberdayaan masyarakat berbasis konservasi. Di sektor pertanian, Pertamina EP DMF mengembangkan konsep Integrated Farming di Kecamatan Toili dan Batui. Program ini mengintegrasikan budidaya maggot, perikanan, peternakan, hortikultura, serta pengelolaan sampah organik menjadi sistem pertanian yang saling mendukung.
Melalui Sekolah Lapang Pertanian “Tudang Sipulung”, perusahaan juga memperkenalkan pupuk organik Bioferdom yang berasal dari pemanfaatan limbah biosulfur hasil produksi migas. Inovasi tersebut membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus memanfaatkan limbah industri menjadi produk yang bernilai.
Pemberdayaan ekonomi juga menyasar kelompok perempuan melalui UMKM Noko Snack di Desa Nonong, Kecamatan Batui. Selain memperoleh pelatihan dan bantuan peralatan, produk olahan mereka bahkan telah dipasarkan hingga Jakarta.
