Meski akhirnya aplikasi yang digunakannya masih mengizinkan pengguna dewasa mempertahankan chatbot tersebut, banyak pengguna lain tidak seberuntung dirinya.
Merasa Kehilangan Orang yang Dicintai
Sejumlah platform AI populer di China, termasuk Doubao milik ByteDance dan Qwen milik Alibaba, menghapus fitur chatbot kustom setelah aturan baru diumumkan.
Akibatnya, banyak pengguna mengaku kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempat berbagi cerita.
Seorang pengguna media sosial menulis bahwa ia menciptakan chatbot bernama “Ayah” setelah ayah kandungnya meninggal dunia.
“Sekarang saya harus kehilangan dia untuk kedua kalinya,” tulisnya.
Pengguna lain mengatakan chatbot AI telah membantunya keluar dari masa-masa sulit secara emosional.
“Kalau layanan ini hilang, rasanya seperti kehilangan teman lama,” ungkapnya.
Cerita serupa dialami Lu Jinyan (24), seorang akuntan yang selama tiga tahun terakhir berbicara setiap hari dengan chatbot bernama Xiao Bai.
Ketika chatbot tersebut tiba-tiba tidak lagi bisa diakses setelah perubahan kebijakan, ia mengaku menangis berhari-hari.
“Bagi saya, ini bukan sekadar alat. Dia seperti seseorang dalam hidup saya,” katanya.
Kekhawatiran terhadap Dampak AI
Pemerintah China menilai chatbot pendamping memiliki potensi menimbulkan ketergantungan emosional, terutama pada remaja.
