BANGGAIPOST, LUWUK – Penyaluran menu Program Makan Bergizi (MBG) kembali menuai sorotan di Kabupaten Banggai. Buah naga yang dibagikan kepada siswa di salah satu sekolah di Kelurahan Kilongan, Kecamatan Luwuk Utara, disebut masih dalam kondisi muda dan belum layak konsumsi.
Sejumlah orang tua siswa mempertanyakan kualitas buah yang diberikan dalam program tersebut. Pasalnya, secara kasat mata buah naga yang diterima anak-anak memiliki ciri belum matang sempurna, dengan warna kulit masih dominan hijau dan rasa yang cenderung asam.
“Kalau untuk konsumsi anak sekolah, harusnya dipilih yang benar-benar matang dan manis. Ini justru seperti buah yang belum siap dipanen,” ujar salah satu orang tua siswa.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, paket menu MBG yang dibagikan terdiri dari satu butir telur, satu buah roti, satu bulo, satu kurma, satu buah naga, serta abon sapi, yang diperuntukkan sebagai konsumsi selama tiga hari.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan dari wali murid terkait kecukupan gizi serta kualitas bahan makanan yang disalurkan. Mereka menilai program yang bertujuan meningkatkan asupan nutrisi peserta didik seharusnya tidak hanya mengejar distribusi, tetapi juga memastikan kelayakan konsumsi setiap menu.
“Ini menyangkut kesehatan dan tumbuh kembang anak. Jangan sampai program yang niatnya baik justru terkesan asal-asalan dalam pelaksanaannya,” kata orang tua siswa lainnya.
Sementara itu, di Kota Luwuk, sejumlah orang tua siswa juga menyampaikan protes terkait menu MBG yang dinilai tidak sebanding dengan harapan program pemenuhan gizi anak. Menu yang diterima siswa disebut hanya terdiri dari satu buah roti kecil, satu donat kecil, tiga buah pisang mas, serta satu bungkus kecil keripik tempe.
Para orang tua menilai porsi dan nilai makanan tersebut masih jauh dari standar makanan bergizi yang diharapkan. Bahkan, beberapa wali murid memperkirakan harga keseluruhan paket makanan tersebut tidak mencapai Rp6.000 hingga Rp7.000 per porsi.
“Kami bukan menolak programnya, tapi kualitas dan kelayakan menunya harus diperhatikan. Kalau nilainya segitu, apakah sudah benar-benar memenuhi kebutuhan gizi anak?” ujar salah satu orang tua siswa.
Program MBG yang sejatinya bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik diharapkan dapat berjalan sesuai standar nutrisi yang telah ditetapkan. Warga berharap pengawasan terhadap proses pengadaan dan seleksi bahan pangan diperketat, termasuk transparansi pelaksanaan di lapangan agar manfaat program benar-benar dirasakan siswa.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyedia MBG maupun instansi terkait mengenai kualitas buah naga serta komposisi menu yang dipersoalkan tersebut. Masyarakat berharap evaluasi segera dilakukan guna menjaga standar gizi dan kelayakan konsumsi dalam program tersebut.(Alin)












