Berita

Asap Kebakaran Hutan Kanada Dipastikan Tak Ganggu Final Piala Dunia 2026 

Gambar menunjukkan skyline Manhattan yang diselimuti kabut tebal berwarna abu-abu/ oranye akibat asap kebakaran hutan dari Kanada, dengan One World Trade Center terlihat samar di latar belakang. (foto: the alhletic by getty images)

Fenomena heat dome atau kubah panas memperparah situasi. Tekanan udara tinggi menjebak asap di dekat permukaan bumi sehingga menciptakan kondisi udara panas, lembap, berkabut, serta berbau asap.

Akibatnya, Indeks Kualitas Udara (AQI) di New York City sempat menyentuh angka 188, masuk kategori “tidak sehat”. Sementara di kawasan East Rutherford, New Jersey—lokasi MetLife Stadium—AQI tercatat sekitar 158, yang juga berada dalam kategori tidak sehat.

Langit di wilayah tersebut bahkan sempat berubah menjadi jingga akibat pekatnya asap kebakaran.

Dokter spesialis pernapasan olahraga dari London, Profesor James Hull, menjelaskan partikel halus dari asap kebakaran dapat memengaruhi performa atlet.

Menurutnya, paparan asap dapat menyebabkan iritasi tenggorokan, batuk, mata perih, hingga sesak napas yang berpotensi mengganggu konsentrasi pemain selama pertandingan.

Dalam kasus tertentu, asap juga dapat memicu penyempitan saluran napas (bronchoconstriction) serta meningkatkan risiko gangguan pada sistem kardiovaskular.

Hull menyebut sekitar 15 hingga 20 persen pesepak bola profesional memiliki riwayat asma, sehingga kelompok ini menjadi yang paling rentan terhadap penurunan kualitas udara.

Ia juga menegaskan latihan di tengah udara yang tercemar bukanlah bentuk adaptasi seperti latihan di dataran tinggi, melainkan justru dapat memperburuk iritasi pada saluran pernapasan.

Bagikan: