BANGGAIPOST.COM, JAKARTA – Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan mencapai kesepakatan damai bersejarah yang membuka harapan baru bagi stabilitas Timur Tengah setelah puluhan tahun diwarnai ketegangan dan konflik terbuka. Namun, di tengah sambutan positif dari banyak negara, Israel justru menunjukkan kekhawatiran terhadap arah baru hubungan kedua negara tersebut. Sementara itu, pasar energi global langsung merespons dengan turunnya harga minyak dunia menyusul rencana pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kesepakatan damai tersebut diumumkan pada Senin, 15 Juni 2026. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menjadi pihak pertama yang mengungkap tercapainya terobosan diplomatik itu setelah serangkaian perundingan intensif yang melibatkan sejumlah negara mediator.
Dikutip dari CGTN, Sharif menyatakan bahwa AS dan Iran telah menyepakati penghentian seluruh operasi militer secara segera dan permanen, termasuk konflik paralel yang berkaitan dengan Lebanon.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian mengonfirmasi bahwa perjanjian damai dengan Iran telah “lengkap”. Melalui platform Truth Social, Trump mengumumkan otorisasi pembukaan kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal tanker minyak internasional serta pencabutan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Langkah tersebut menjadi bagian dari implementasi awal kesepakatan damai yang akan diformalkan dalam penandatanganan resmi di Swiss pada 19 Juni 2026.
Dari pihak Iran, Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi turut membenarkan bahwa teks nota kesepahaman antara kedua negara telah difinalisasi. Dikutip dari DW, Gharibabadi menyebut dokumen resmi kesepakatan itu akan ditandatangani pada Jumat, 19 Juni 2026.
Meski disambut positif oleh banyak negara, reaksi berbeda datang dari Israel. Pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan memandang kesepakatan tersebut dengan penuh kehati-hatian dan kekhawatiran.
Seperti dilansir The Soufan Center, Israel disebut meningkatkan tekanan terhadap Hamas dan Hizbullah menjelang tercapainya kerangka kesepakatan AS-Iran.
Sementara itu, negara-negara Eropa seperti Inggris, Jerman, Prancis, dan Italia menyebut terobosan diplomatik ini sebagai langkah penting menuju perdamaian kawasan.
Euronews menulis: “Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menilai kesepakatan tersebut sebagai perkembangan signifikan untuk mengakhiri perang sekaligus menjaga Selat Hormuz tetap terbuka demi stabilitas perdagangan global.”
Dampaknya langsung terasa di pasar energi dunia. Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global diperkirakan kembali beroperasi normal setelah proses pembersihan ranjau laut.
Sementara itu dikutip dari BBC, harga minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), turun sekitar 4 persen, sementara minyak Brent juga melemah ke kisaran US$84 per barel seiring meningkatnya harapan berakhirnya konflik.
Jika penandatanganan resmi berlangsung sesuai jadwal di Swiss pada 19 Juni mendatang, kesepakatan ini berpotensi menjadi salah satu tonggak diplomasi paling penting dalam sejarah hubungan AS dan Iran. Namun, implementasi di lapangan tetap akan menjadi ujian sesungguhnya di tengah dinamika politik dan keamanan yang masih membayangi kawasan Timur Tengah.(RBP)












