Berita Utama

Anak Indonesia, Poliglot Sejak Dalam Kandungan

Sekolah seharusnya menjadi tempat anak-anak tumbuh, bukan tempat mereka diuji terus-menerus.

Ketimpangan dan kenyataan.

Kita sering membanggakan kebijakan besar, tapi menutup mata terhadap ketimpangan kecil.
Pejabat berbicara tentang “kesiapan generasi global,” sementara di daerah, guru masih menulis dengan kapur di papan kayu.
Pemerintah berbicara tentang AI dan metaverse, tetapi masih ada sekolah, yang komputer hanya ada satu, dan itu pun sudah berdebu.

Cermin di Ruang Elite

Jika menengok ke atas, ke jajaran elite politik negeri ini, ironi semakin jelas.
Sebagian pejabat adalah lulusan SMA, bahkan beberapa ijazahnya masih misteri publik.
Namun dari ruang yang sama, lahirlah kebijakan yang menuntut anak-anak menjadi “superman kecil”:
fasih lima bahasa, jago algoritma, dan menguasai dunia digital.

Apakah ini strategi pendidikan, atau keinginan orang dewasa?

“Sekolah tidak butuh lebih banyak bahasa,
tapi lebih banyak kejujuran dan empati dari pembuat kebijakan.”

Sekolah adalah ruang tumbuh imajinasi dengan kebahagian.

Sekolah bukanlah arena perlombaan, melainkan taman belajar dan berimajinasi.
Namun hari ini, taman itu terasa gersang.
Anak-anak datang bukan untuk bermain, tapi untuk melengkapi daftar target nasional.
Guru pun tak lagi punya waktu mengajar dengan hati karena terlalu sibuk mengisi laporan dan mengikuti pelatihan daring yang kadang tak relevan.

Bagikan: