Isu merapat ke Gerindra dinilai berpotensi mengubah konfigurasi kekuatan partai dan membuka berbagai skenario baru menuju Pilgub Sulawesi Tengah 2030
BANGGAIPOST.COM, PALU – Pengunduran diri Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) menjadi salah satu peristiwa politik paling menyita perhatian di Sulawesi Tengah pada pertengahan 2026.
Setelah kurang lebih 18 tahun berkiprah di Hanura, keputusan Hadianto meninggalkan partai yang turut membesarkan karier politiknya dinilai dapat memengaruhi arah peta politik daerah menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Tengah 2030.
Apalagi, muncul isu yang menyebut Hadianto berpeluang bergabung dengan Partai Gerindra. Meski belum ada pernyataan resmi dari yang bersangkutan, dinamika tersebut mulai dibaca sebagai sinyal pergeseran kekuatan politik di Bumi Tadulako.
Hadianto Rasyid sendiri bukan figur baru dalam percaturan politik Sulawesi Tengah. Selain dikenal sebagai pengusaha, ia menjabat sebagai Wali Kota Palu periode 2021–2025 dan kembali terpilih untuk periode 2025–2030.
Selama bernaung di Hanura, Hadianto juga dipercaya sebagai Ketua DPD Hanura Sulawesi Tengah. Di bawah kepemimpinannya di Kota Palu, pemerintah daerah meraih sejumlah penghargaan, mulai dari penanganan stunting hingga berbagai inovasi pelayanan publik.
Pada awal Juni 2026, Hadianto dikabarkan telah menyampaikan surat pengunduran diri kepada DPP Hanura.
