Tomundo Banggai ke XXIII Ajak Masyarakat Sukseskan Festival Mombowa Tumpe 

Tomundo ke XXIII, Keraton Banggai Irwan Zaman,SE

BANGGAIPOST.COM,Luwuk- Tomundo Banggai ke XXIII, Keraton Kerajaan Banggai Irwan Zaman,SE mengajak segenap komponen masyarakat, bahu-membahu mensukseskan Festival Mombowa Tumpe tahun 2023, di Kecamatan Batui.

“Saya Irwan Zaman,SE, Tomundo Banggai ke XXIII, Keraton Kerajaan Banggai, Mengajak kita semua untuk  mensukseskan Festival Mombowa Tumpe sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai Amanah Leluhur, yang di laksanakan pada tanggal 25 November – 02 Desember 2023,”tulis Tomundo Banggai dalam sebuah pesan melalui Whatsupp, kemarin.

Untuk diketahui dalam perspektif masyarakat batui, Tumpe mengandung makna “Telur Pertama” Burung Maleo (Manuk Mamua).

Dikutip dari wordpress.com, menyebutkan, Burung Maleo (Manuk Mamua’) adalah burung kesayangan raja Motindok di Batui.

Saat Raja Banggai Adi Soko (Mumbu Adi Jawa) kembali ketanah Jawa, Raja Motindok yang juga Mertua Adi Soko memberikan oleh-oleh sepasang burung maleo kepada Adi Soko.

Baca Juga :  Fraksi DPRD Tak Sampaikan Pandangan Umum Pengantar Nota Keuangan RAPBD-P 2020

Burung Maleo kemudian dikembalikan ke tanah Banggai yang dititip melalui anak Raja Adi Soko, yakni Abu Kasim. Karena tidak bisa berkembang biak di Banggai, Frins Mandapar anak Pertama Adi Soko dari isteri seorang Castela berkebangsaan Portugis yang memimpin kerajaan banggai menggantikan Bapaknya Adi Soko, memerintahkan kepada adiknya Abu Kasim untuk mengembalikan sepasang burung Maleo tersebut pada kakeknya Raja Motindok di Batui.

Bertempat di Pelabuhan Motindok Batui, Abu Kasim menyerahkan Burung Maleo tersebut kepada Raja Motindok, dengan sebuah pesan “Bila sepasang burung maleo itu telah bertelur, maka Telur Pertama (Tumpe) dapat diantarkan ke Banggai.

Atas dasar “Amanah” tersebut, proses ritual pengantaran telur maleo (Tumpe) dari Batui ke Keraton Banggai hingga saat ini terus dilestarikan.

Baca Juga :  Bupati Tegaskan Dana Desa Dikelolah Masyarakat, Bukan Dikerjakan Kontraktor

Raja Motindok kemudian melepas sepasang burung maleo tersebut dipantai Bakiriang Kecamatan Batui sebagai lokasi habitat berkembang biaknya Burung Maleo.

Berdasarkan catatan sejarah yang terungkap melalui Konfrensi Internasional Maleo di Tomohon Sulawesi Utara Rabu (24/3/2010), Mr Marck, peneliti Maleo asal Negeri Belanda mengatakan, pertama kali Burung Maleo ditemukan pada tahun 1571 di pantai Bakiriang Kecamatan Batui. (RED)