“Saya jauh-jauh ke London, meninggalkan anak saya yang masih dua tahun, hanya
untuk dapat menyampaikan langsung kepada bapak Jardine Matheson untuk dapat
mengembalikan tanah saya untuk dikembalikan. Saya juga mewakili kawan-kawan saya yang lain, tidak ingin lagi menunggu terlalu lama lagi, sebab kami sudah tidak dapat lagi hidup dengan situasi yang dimiskinkan oleh Astra, selama puluhan tahun”, tutur Nengah Wantri.

Selain melakukan protes di depan kantor pusat Astra Internasional milik Jardine
Matheson, perwakilan masyarakat yang didampingi oleh WALHI, Friends of the
Earth England, Wales, Northen Ireland (FOE EWNI), dan Friends of the Earth
Netherlands (Milleudefensie) juga bertemu dengan beberapa anggota parlemen
United Kingdom (UK) untuk menyampaikan situasi yang dialami oleh masyarakat.
Sementara itu, Uli Arta Siagian, Manager Kampanye Hutan dan Kebun WALHI Nasional juga mengatakan, pihaknya membawa kasus anak perusahaan Astra Agro Lestari (AAL) ke Inggris, untuk meminta pertanggung jawaban pemerintah dan parlemen Inggris atas praktik buruk AAL di Indonesia.
Ada banyak entitas di Inggris sebut dia,
mengambil keuntungan dari penderitaan yang ditanggung masyarakat. Jardine
Matheson, pemilik Astra, adalah warga negara Inggris dan merupakan penerima
terbesar dari praktik buruk ini.
