Ia juga menyinggung janji distribusi air menggunakan mobil tangki yang sebelumnya disebut akan membantu warga terdampak krisis. Namun hingga kini, menurutnya, bantuan tersebut tidak pernah benar-benar dirasakan secara merata.
“Katanya mobil tangki masuk, tapi di lorong saya tidak pernah ada. Janji tinggal janji,” keluhnya.
Kekecewaan warga tidak hanya diarahkan kepada PDAM. Pemerintah daerah juga ikut disorot karena dinilai lamban dan tidak menunjukkan langkah konkret dalam menyelesaikan krisis air bersih yang sudah berlarut-larut.
“Air ini sumber kehidupan masyarakat. Tapi seolah tidak jadi prioritas. Kalau proyek miliaran cepat sekali berjalan. Di mana-mana proyek ada, tapi soal air justru seperti tidak dianggap penting,” kata seorang warga lainnya.
Di tengah situasi tersebut, sebagian warga terpaksa mencari solusi sendiri. Sejumlah rumah mulai membuat sumur bor secara swadaya demi memenuhi kebutuhan air sehari-hari, terlebih saat masyarakat tengah menjalankan ibadah di bulan Ramadan.
Warga berharap pemerintah daerah, khususnya Bupati Banggai, tidak menutup mata terhadap persoalan ini dan segera mengambil langkah nyata. Bagi masyarakat Kilongan, krisis air bersih yang dibiarkan berlarut-larut bukan lagi sekadar gangguan layanan, melainkan kegagalan negara dalam memenuhi kebutuhan dasar warganya.(Alin)
