Berita Utama

Sawit Diklaim Mampu Serap Karbon Tinggi, Bisakah Jadi Penyeimbang Emisi Industri di Banggai?

Melalui teknologi methane capture atau penangkapan metana, gas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik maupun diolah menjadi bio-CNG. Teknologi ini disebut mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 66–90 persen dibandingkan sistem pengolahan limbah konvensional.

Sebuah pabrik kelapa sawit berkapasitas 45 hingga 60 ton tandan buah segar (TBS) per jam diperkirakan mampu menghasilkan listrik sekitar 0,95 hingga 1,52 megawatt dari pemanfaatan biogas POME. Potensi ini masih dapat ditingkatkan melalui pemanfaatan biomassa lain seperti tandan kosong sawit (empty fruit bunch/EFB).

Sementara itu, riset yang dipublikasikan pada 2025 mengenai pemanfaatan POME untuk produksi biohidrogen memperkirakan potensi pengurangan emisi nasional dapat mencapai sekitar 70,1 juta ton COâ‚‚ ekuivalen per tahun apabila teknologi tersebut diterapkan secara luas.

Berbeda dengan sektor migas dan petrokimia, penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) murni di industri sawit masih tergolong terbatas. Faktor biaya investasi yang tinggi, kebutuhan infrastruktur khusus, serta regulasi yang masih berkembang menjadi tantangan utama implementasinya.

Karena itu, sebagian besar upaya pengurangan emisi di sektor sawit saat ini masih berfokus pada pemanfaatan biogas, biomassa, dan konsep bioenergy with carbon capture dibandingkan CCS skala besar seperti yang direncanakan pada sektor industri berat.

Relevansi dengan Banggai

Bagikan: