Menutup sambutannya, Amirudin berharap kisah yang ia sampaikan tentang keberanian bermimpi dapat menjadi inspirasi bagi para siswa SMP Negeri Mirqan agar terus belajar, berprestasi, dan berani mengejar cita-cita setinggi mungkin.
Namun, di balik peresmian sekolah baru yang megah tersebut, masih tersisa pekerjaan rumah besar dalam pemerataan infrastruktur pendidikan di Kabupaten Banggai.
Kontras itu terlihat di Desa Masungkang, Kecamatan Batui Selatan. Hingga kini, siswa SMP Negeri Satu Atap Batui 5 masih harus menyeberangi sungai berarus deras sepanjang lebih dari 100 meter setiap hari karena belum tersedianya jembatan penghubung. Saat musim hujan, debit air meningkat dan arus menjadi berbahaya sehingga kegiatan belajar sering terganggu. Bahkan, dalam beberapa kesempatan siswa terpaksa menginap di rumah warga karena tidak dapat kembali ke desanya. Perjuangan mereka menyeberangi sungai berkali-kali viral di media sosial dan sempat menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Potret serupa juga terlihat di SDN Tampe, Kecamatan Pagimana, yang sempat menjadi sorotan publik akibat kondisi bangunan sekolah yang rusak, minim fasilitas, serta masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik.
