Padahal kita ketahui bersama bahwa Indonesia saat ini memiliki bonus demografi dengan jumlah pemuda yang begitu besar. Idealnya Indonesia berada pada fase keemasan, dimana optimisme itu tumbuh bersama dengan statistik pemuda secara kuantitatif. Mindset ini mestinya difahami Kadis Dikpora secara strategis mengingat latar belakangnya sebagai seorang dosen dan pemuda. Namun sejauh ini penalaran dan lompatan pemikiran yang maju dan progresif belum nampak dan menunjukan tanda-tanda perubahan.
Padahal 3 dari 5 pesan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali, dari 5 program prioritas dalam menyambut hari sumpah pemuda tahun 2020 ini yakni *Mendorong Kemjuan Kepemudaan,* yang dijabarkan sebagai berikut:
Pertama,_ Menpora RI menyampaikan perbaikan tata kelola, kompetensi ASN, penyederhanaan regulasi, penyesuaian birokrasi dan peningkatan kecepatan pelayanan publik.
Kedua,_ pemberdayaan pemuda menjadi kreatif, inovatif, mandiri, dan berdaya saing serta menumbuhkan semangat kewirausahaan.
Ketiga,_ Penguatan ideologi Pancasila dan karakter serta budaya bangsa dikalangan pemuda. Lalu, keempat,_ pemassalan dan pemasyarakatan olahraga yang menimbulkan kegemaran untuk hidup lebih sehat dan bugar dikalangan masyarakat. Kelima,_ yaitu pembinaan usia dini dan peningkatan prestasi atlet yang terencana dan berkesinambungan.
