Di sisi lain, koalisi dengan kubu petahana jauh lebih realistis. Memberi dukungan Demokrat kepada Benny Tamoreka atau kandidat dari klan Tamoreka akan menjadi win-win: Tamoreka mendapat tambahan suara, Anwar memperkuat posisi Demokrat di Banggai tanpa harus mengambil risiko besar sebagai “dirigen” sebuah poros baru dengan calon sendiri. Lagipula, politik adalah soal kalkulasi kepentingan, bukan sekadar wacana gagasan.
Anak muda itu tersenyum saat saya menyampaikan keraguan ini. Ia tetap optimis bahwa polarisasi yang terlalu lama justru akan menciptakan ruang bagi pemain baru. Masyarakat, katanya, lama-lama akan mencari pilihan ketiga — bukan karena membenci kedua kubu, tapi karena menginginkan narasi dan tawaran yang berbeda. Termasuk narasi pembangunan, tentu dengan ide-ide yang berbeda.
Saya mengangguk, tapi tetap skeptis.
Sejarah politik daerah sering menunjukkan bahwa poros tengah yang kuat jarang lahir dari ruang kosong. Biasanya ia lahir dari pecah kongsi di dalam kubu besar, atau dari krisis yang memaksa realignment kekuatan. Saat ini, hubungan Anwar-Tamoreka masih terlalu hangat untuk menduga adanya perpecahan.
Namun sebagai latihan membaca masa depan, gagasan itu tetap menarik untuk dipikirkan.
