Bagi Luwuk, kondisi tersebut juga memberikan peluang untuk mengubah posisi dari sekadar kota persinggahan menjadi gateway pariwisata. Apalagi, Swiss-Belinn sendiri berada tidak jauh dari sejumlah akses penting kota, termasuk Bandara Syukuran Aminuddin Amir. Situs resmi Swiss-Belhotel menyebut hotel tersebut berada sekitar 10 menit dari bandara dan menyediakan 101 kamar serta fasilitas untuk wisatawan maupun pelaku perjalanan bisnis.
Eci menilai semakin dikenalnya destinasi wisata di Banggai Bersaudara membuka peluang bagi daerah untuk tidak lagi memasarkan destinasi secara sendiri-sendiri. Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut memiliki karakter wisata yang berbeda, tetapi dapat dirangkai menjadi satu perjalanan. “Potensinya besar. Wisatawan sekarang bisa menggabungkan beberapa destinasi dalam satu perjalanan,” ujarnya.
Jika pola ini terus berkembang, manfaat ekonomi pariwisata juga berpotensi menyebar lebih luas. Wisatawan yang sebelumnya hanya menjadikan Luwuk sebagai titik transit menuju Togean dapat terdorong menginap, makan, menggunakan jasa transportasi lokal, hingga mengunjungi destinasi lain sebelum meneruskan perjalanan.
Bagi industri perhotelan, peningkatan arus wisatawan tersebut tentu menjadi peluang. Namun bagi daerah, fenomena ini menyimpan peluang yang lebih besar: membangun Luwuk sebagai pintu masuk sekaligus simpul perjalanan wisata menuju Banggai Bersaudara dan Togean.(BRP)
