Betapa membanggakannya jika suatu hari seorang anak dari pelosok Banggai menemukan puisinya sendiri tersimpan di rak perpustakaan daerah. Mungkin bagi pemerintah itu hanya sebuah buku tipis. Namun, bagi anak tersebut, itu adalah pengakuan bahwa suaranya layak didengar.
Pembangunan sering dipahami sebagai pembangunan fisik. Kita mengukur keberhasilannya dengan kilometer jalan, jumlah gedung, atau besaran investasi. Semua itu memang penting. Namun, pembangunan yang hanya berfokus pada beton dan aspal akan menghasilkan masyarakat yang maju secara material, tetapi miskin imajinasi.
Padahal bangsa ini lahir bukan hanya dari para pejuang bersenjata. Bangsa ini juga dibentuk oleh para penulis, penyair, dan pemikir yang menanamkan kesadaran melalui kata-kata.
Karena itu, saya masih menyimpan harapan sederhana.
Suatu hari nanti mungkin akan lahir seorang bupati di Banggai yang tidak hanya mencintai sastra, tetapi juga terlibat di dalamnya. Seorang pemimpin yang memahami bahwa membangun daerah tidak hanya berarti membangun infrastruktur, melainkan juga membangun jiwa manusia.
Sebab jalan yang baik dapat menghubungkan satu desa dengan desa lainnya. Namun, sastra yang baik mampu menghubungkan manusia dengan kemanusiaannya sendiri.
