Kecurigaan warga semakin menguat setelah diketahui bahwa lokasi pembangunan jembatan tersebut berada tepat di dekat titik rencana proyek jembatan yang pernah dianggarkan melalui APBDes tahun 2022.
Pada masa kepemimpinan mantan Kepala Desa Nasokha, pemerintah desa disebut pernah mengalokasikan sekitar Rp112 juta dari Dana Desa untuk pembangunan jembatan di lokasi yang sama. Namun hingga kini proyek tersebut diduga tidak pernah terealisasi secara fisik, meski anggarannya disebut telah dicairkan.
Fakta ini menimbulkan dugaan adanya benang merah antara proyek desa yang tidak terwujud dengan proyek Pokir yang kini juga terbengkalai.

Ironisnya, pembangunan jembatan tersebut berada tepat di depan fasilitas kesehatan desa Polibun, sehingga kondisi bangunan yang rusak dan setengah jadi dinilai sangat memprihatinkan.
“Ini proyek untuk masyarakat atau sekadar proyek pencairan anggaran di akhir tahun? Kalau hanya dikerjakan asal-asalan lalu ditinggalkan, tentu ini merugikan masyarakat,” tegas sumber lainnya.
Masyarakat Desa Bukit Mulya kini mendesak Inspektorat Kabupaten Banggai serta aparat penegak hukum untuk segera melakukan audit investigatif terhadap proyek tersebut.
Warga menilai perlu ada penelusuran menyeluruh, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan pekerjaan, hingga pengawasan proyek agar penggunaan anggaran daerah tidak berakhir menjadi bangunan mangkrak tanpa manfaat.

