Pramoedya Ananta Toer bukan sekadar novelis. Melalui tetralogi Buru, ia mengajak pembaca memahami sejarah, kolonialisme, nasionalisme, dan martabat manusia.
Eka Kurniawan bukan sekadar penulis populer. Karya-karyanya memperlihatkan bagaimana sejarah, mitos, kekerasan, dan politik saling bertaut dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
George Orwell pun bukan hanya pengarang cerita fiksi. Animal Farm dan Nineteen Eighty-Four telah lama menjadi bacaan klasik dunia untuk memahami bagaimana kekuasaan dapat bekerja melalui propaganda, manipulasi bahasa, dan pengawasan terhadap masyarakat.
Karya-karya seperti itu seharusnya mudah ditemukan di perpustakaan daerah. Bukan karena semua orang harus sepakat dengan isi atau pandangan para penulisnya, tetapi karena perpustakaan adalah rumah bagi pengetahuan, tempat masyarakat bebas membaca, membandingkan, dan membentuk cara berpikirnya sendiri.
Ironisnya, kita sering lebih bersemangat membangun wadah daripada mengisi isinya.
Kita membangun gedung sekolah, tetapi kekurangan guru.
Kita akan membangun rumah sakit, tetapi kekurangan dokter dan tenaga medis lainnya.
Dan kini kita membangun perpustakaan yang megah, tetapi koleksi bukunya belum mampu memenuhi harapan para pembaca.
