Warga juga mempertanyakan realisasi program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dinilai belum memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat Desa Siuna.
Menurut mereka, keberadaan perusahaan tambang tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga harus memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pembangunan lingkungan sekitar.
Selain itu, Pardi menyoroti kesepakatan yang pernah dibuat antara masyarakat dan sejumlah perusahaan terkait pengendalian debu di kawasan permukiman. Salah satu poin kesepakatan tersebut adalah komitmen perusahaan untuk melakukan penyiraman jalan secara rutin pada ruas jalan yang berada di area pemukiman warga.
Namun, menurutnya, komitmen tersebut belum dijalankan secara maksimal dan berkelanjutan.
“Surat ini sudah berkali-kali kami sampaikan, tetapi lagi dan lagi tingkat kepatuhan dan ketaatan pihak perusahaan masih diabaikan. Sebenarnya maunya perusahaan seperti apa?” tegasnya.
Kolom Komentar Dipenuhi Kekhawatiran Warganet
Sejalan dengan aspirasi warga, kolom komentar media sosial yang membahas foto udara Siuna juga dipenuhi berbagai tanggapan bernada kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan.
Banyak warganet menilai perubahan bentang alam yang terlihat dari udara menjadi gambaran nyata besarnya aktivitas eksploitasi sumber daya alam yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.
