Namun, Lattanzi mengingatkan bahwa temuan tersebut masih berasal dari penelitian laboratorium dan hewan percobaan.
“Hasil ini masih bersifat pra-klinis. Data berasal dari kultur sel dan model tikus. Temuannya memang menarik, tetapi masih memerlukan uji klinis pada manusia sebelum dapat memengaruhi praktik pengobatan pasien kanker,” jelasnya, dikutip dari Newsweek.
Ia menambahkan, salah satu keunggulan penelitian ini adalah penggunaan obat-obatan yang sudah lama dikenal dan digunakan secara luas di dunia medis.
Meski demikian, menurutnya masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Viagra dapat digunakan sebagai obat pencegah kanker.
Mengganggu “Bahan Bakar” Sel Kanker
Dalam penelitian tersebut, sildenafil diketahui bekerja dengan menghambat enzim phosphodiesterase tipe 5 (PDE5). Selama ini mekanisme tersebut dikenal dapat meningkatkan kadar molekul cGMP sehingga memperlebar pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah, yang menjadi dasar penggunaan Viagra untuk mengatasi disfungsi ereksi.
Namun para peneliti menemukan mekanisme lain yang sebelumnya belum diketahui.
Peningkatan cGMP ternyata juga mengganggu protein pengangkut kolesterol di dalam sel. Akibatnya, pasokan kolesterol yang dibutuhkan sel kanker menjadi terganggu sehingga kemampuan sel kanker untuk bermetastasis ikut menurun.
