Bertempat di Pelabuhan Motindok Batui, Abu Kasim menyerahkan Burung Maleo tersebut kepada Raja Motindok, dengan sebuah pesan “Bila sepasang burung maleo itu telah bertelur, maka Telur Pertama (Tumpe) dapat diantarkan ke Banggai.
Atas dasar “Amanah” tersebut, proses ritual pengantaran telur maleo (Tumpe) dari Batui ke Keraton Banggai hingga saat ini terus dilestarikan.
Raja Motindok kemudian melepas sepasang burung maleo tersebut dipantai Bakiriang Kecamatan Batui sebagai lokasi habitat berkembang biaknya Burung Maleo.
Berdasarkan catatan sejarah yang terungkap melalui Konfrensi Internasional Maleo di Tomohon Sulawesi Utara Rabu (24/3/2010), Mr Marck, peneliti Maleo asal Negeri Belanda mengatakan, pertama kali Burung Maleo ditemukan pada tahun 1571 di pantai Bakiriang Kecamatan Batui. (RED)
