IKLAN
Iklan BanggaiPost
Berita Utama

Tomundo Banggai ke XXIII Ajak Masyarakat Sukseskan Festival Mombowa Tumpe 

Tomundo ke XXIII, Keraton Banggai Irwan Zaman,SE

Burung Maleo kemudian dikembalikan ke tanah Banggai yang dititip melalui anak Raja Adi Soko, yakni Abu Kasim. Karena tidak bisa berkembang biak di Banggai, Frins Mandapar anak Pertama Adi Soko dari isteri seorang Castela berkebangsaan Portugis yang memimpin kerajaan banggai menggantikan Bapaknya Adi Soko, memerintahkan kepada adiknya Abu Kasim untuk mengembalikan sepasang burung Maleo tersebut pada kakeknya Raja Motindok di Batui.

Bertempat di Pelabuhan Motindok Batui, Abu Kasim menyerahkan Burung Maleo tersebut kepada Raja Motindok, dengan sebuah pesan “Bila sepasang burung maleo itu telah bertelur, maka Telur Pertama (Tumpe) dapat diantarkan ke Banggai.

Atas dasar “Amanah” tersebut, proses ritual pengantaran telur maleo (Tumpe) dari Batui ke Keraton Banggai hingga saat ini terus dilestarikan.

Raja Motindok kemudian melepas sepasang burung maleo tersebut dipantai Bakiriang Kecamatan Batui sebagai lokasi habitat berkembang biaknya Burung Maleo.

Berdasarkan catatan sejarah yang terungkap melalui Konfrensi Internasional Maleo di Tomohon Sulawesi Utara Rabu (24/3/2010), Mr Marck, peneliti Maleo asal Negeri Belanda mengatakan, pertama kali Burung Maleo ditemukan pada tahun 1571 di pantai Bakiriang Kecamatan Batui. (RED)

Bagikan: