“Oleh guru bidang studi bahasa Inggris, dengan alasan tidak mengerjakan tugas,dan ketinggalan pelajaran. Anak saya mencoba memberikan alasan kepada sang guru, bahwa tengah mengikuti paskibra tingkat kebupaten. Namun alasan yang disampaikan justeru tidak diterima,”ungkapnya.
“Saat itu anak saya mengalami tekanan psikologis”tambahnya menegaskan.
Mendengar keluhan sang anak, iapun mendatangi sekolah, dan Menemui Kepsek. Kritikan terus ia layangkan kepada pihak sekolah saat pertemuan itu.
“Setiap penjelasan yang diutarakan Kepsek selalu berkelit, padahal kejadian benar adanya,”ujarnya.
Setelah mendalami problem tersebut, iapun menilai, hal ini terjadi karena Kepala Sekolah tidak mensosialisasikan kepada seluruh guru, bahwa ada peserta didik yang terpilih mengikuti Paskibraka Tingkat Kabupaten Banggai.
“Fungsi managerial Kepala Sekolah tidak jalan. Tidak ada komunikasi antara pimpinan sekolah dengan bawahannya. Buktinya saja yang kami temukan, sejumlah guru tidak tahu kalau ada siswi SMAN 1 Batui, tengah berjuang mengharumkan nama sekolah di tingkat Kabupaten (Paskibraka.red),”
Iapun berharap kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, untuk segera mengevaluasi Kepala Sekolah SMAN 1 Batui. Ini penting dilakukan, agar problem tersebut tak terjadi dikemudian hari.
