Berita Utama

Sawit Diklaim Mampu Serap Karbon Tinggi, Bisakah Jadi Penyeimbang Emisi Industri di Banggai?

Dengan kata lain, keberadaan perkebunan sawit tidak otomatis membuat suatu wilayah menjadi netral karbon. Diperlukan kajian neraca karbon yang lebih komprehensif untuk mengetahui apakah suatu kawasan benar-benar berfungsi sebagai penyerap karbon bersih (net carbon sink) atau masih menghasilkan emisi bersih setelah seluruh faktor diperhitungkan.

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai bahwa kombinasi antara perkebunan sawit berkelanjutan, pemanfaatan teknologi penangkapan metana dari limbah POME, serta penerapan CCS pada industri berbasis gas alam dapat menjadi salah satu strategi penting menuju pembangunan rendah karbon di Kabupaten Banggai.

Tantangan dan Peluang

Di balik potensinya sebagai penyerap karbon, industri sawit juga menghadapi sejumlah tantangan lingkungan yang tidak bisa diabaikan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembukaan lahan baru pada kawasan hutan maupun gambut dapat menghasilkan emisi awal yang sangat besar, bahkan mencapai lebih dari 650 hingga 1.300 ton COâ‚‚ ekuivalen per hektare. Emisi tersebut berpotensi menghapus manfaat penyerapan karbon yang diperoleh selama bertahun-tahun setelah kebun beroperasi.

Selain itu, adopsi teknologi penangkapan metana dan CCS di sektor sawit masih menghadapi kendala investasi, teknologi, serta kepastian pasar karbon.

Bagikan: