Berita Utama

Refleksi Tentang Pemuda: Dari Rengasdengklok ke Ruang Rapat Ormas

Padahal semangat Rengasdengklok bukan tentang pemberontakan, melainkan kegelisahan untuk kemerdekaan, keberanian mengambil tanggung jawmab ketika yang tua sibuk berhitung. Jika semangat itu pernah menjadi percikan sejarah, kini ia menjadi dekorasi pidato di aula berpendingin udara.

Bapakisme dan Struktur Organisasi Pemuda

Setelah kemerdekaan, terutama pada masa Orde Baru, organisasi kepemudaan mulai menyerupai keluarga besar: ada bapak, anak, dan menantu ideologis. Semua tunduk pada garis komando, bukan pada gagasan.

Budaya bapakisme membuat pemuda lebih pandai menghafal tata cara penghormatan daripada makna perjuangan. Mereka dididik untuk loyal, bukan kritis; patuh, bukan kreatif. Di banyak organisasi, yang muda dianggap “belum cukup matang” untuk berpikir, tapi cukup penting untuk memeriahkan kegiatan.

Ruang rapat pemuda pun jadi seperti panggung drama kepemimpinan: yang tua memberi wejangan, yang muda mencatat, lalu semua berfoto di akhir acara, membuktikan bahwa kaderisasi telah berjalan dengan lancar, meski yang diwariskan hanyalah tata cara berterima kasih.

Syahrir: Pemuda yang Berpikir, Bukan Sekadar Berbaris

Bagikan: