Berita Utama

Pendidikan Karakter dalam Perspektif Kearifan Lokal

Dalam buku yang berjudul โ€œManusia dalam Kebudayaan dan Masyarakat (2015)โ€ karya Eko A. Meinarno, Bambang Widianto, dan Rizka Halida, sebagaimana dilansir kompas.com, kearifan lokal adalah cara dan praktik yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat yang berasal dari pemahaman mendalam mereka akan lingkungan setempat yang terbentuk secara turun-temurun.
Kearifan lokal muncul dari dalam masyarakat sendiri, disebarluaskan secara non-formal, serta dimiliki secara kolektif oleh masyarakat yang bersangkutan. Dapat disimpulkan, kearifan lokal atau local wisdom pada dasarnya adalah kumpulan pengetahuan dari masyarakat lokal yang melingkupi seluruh aspek kehidupan mereka yang penuh dengan nilai-nilai kearifan (kebijaksanaan) mulai dari budaya bahasa, etika sopan santun, adat istiadat, tata aturan hukum atau norma dan tradisi lain yang berlaku sejak lama secara turun temurun.
Sebagai contoh, dalam skala lokal kebanggaian dahulu sering kita dengar orang tua menegur anak yang terkesan berperilaku menyimpang dengan kata yang terkesan kasar seperti Paudo buno kio kona adat (anak itu seperti tidak beradat/beradab). Meskipun terkesan kasar, tetapi dari kalimat itu tersirat pesan akan adanya kesadaran dari orang tua yang mengingatkan kepada sang anak akan pentingnya berperilaku arif sesuai adat istiadat yang berlaku di masyarakat adat Banggai yang menjunjung tinggi filosofi Adat bersendikan syarah, syarah bersendikan kitabullah.
Dari filosofi budaya masyarakat adat Banggai ini, dapat dipahami bahwasanya etika sopan santun masyarakat lokalnya selalu bersumber dari perilaku bijaksana yang keseluruhannya disandarkan pada nilai-nilai luhur (akhlakul karimah) dari ajaran agama Islam itu sendiri. Oleh sebab itu, pendidikan di Banggai Laut sudah seyogyanya diorientasikan atau dikolaborasikan pada prinsip dasar adat budaya lokal atau lebih kita kenal dengan sebutan kearifan lokal.
Pendidikan kolaboratif dengan kearifan lokal pada dasarnya telah berkembang melalui pola pendidikan dan pembelajaran di pesantren. Khususnya di pulau Jawa, Pesantren menawarkan Pembelajaran Agama dan pengetahuan Ilmiah lainnya dalam ruang budaya Jawa, sehingganya dalam etika pergaulan sehari-hari, para santri ataupun lulusannya tidak melupakan adat dan kebiasaan atau tradisi masyarakatnya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana membangun sistem pendidikan berkearifan lokal dalam kultur masyarakat adat Banggai?

Bagikan: