Oleh: Supriadi Lawani*
Paskibraka merupakan simbol kehormatan negara. Menjadi anggota Paskibraka adalah kebanggaan bagi banyak pelajar karena mereka dipercaya mengemban tugas mengibarkan Sang Merah Putih dalam upacara kenegaraan. Namun, di balik kehormatan itu, terdapat satu pertanyaan yang jarang diajukan secara serius: apa dasar rasional penetapan standar tinggi badan dalam seleksi Paskibraka?
Jawaban yang paling sering dikemukakan adalah estetika. Formasi yang seragam dianggap lebih rapi, lebih proporsional, dan lebih indah dipandang. Persoalannya, apakah anggapan tersebut memiliki dasar filosofis dan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan?
Dalam filsafat estetika, tidak ada teori yang diterima secara universal yang menyatakan bahwa formasi dengan tinggi badan seragam secara objektif lebih indah daripada formasi yang memiliki variasi tinggi badan. Keindahan bukanlah ukuran yang dapat dihitung dengan sentimeter. Ia merupakan konsep yang telah diperdebatkan sejak zaman para filsuf hingga hari ini.
Ada yang menghubungkan keindahan dengan harmoni dan keteraturan. Namun, ada pula pandangan yang melihat keindahan justru dapat lahir dari keberagaman, keseimbangan, dan ekspresi. Dengan demikian, menjadikan tinggi badan sebagai ukuran estetika bukanlah kesimpulan filosofis yang bersifat mutlak.
