Iklan Banggai Post
Opini

Para Calon Pemilih yang Diam di Medsos, Tapi Idealis di Bilik Suara?

Namun, justru pada generasi inilah muncul kecenderungan untuk tidak banyak memposting.

Mereka tetap aktif. Tetap scrolling, menonton konten, memberi like, mengikuti tren, atau berinteraksi seperlunya. Hanya saja, akun mereka relatif kosong.

Fenomena ini bukan sekadar anomali. Ia memperlihatkan adanya pergeseran dalam cara kita membaca keterlibatan di media sosial.

Chayka mengaitkannya dengan kelelahan terhadap kebisingan media sosial, tekanan untuk selalu tampil sempurna, persoalan privasi, hingga enshittification platform digital.

Yang menarik, Gen Z tidak benar-benar meninggalkan media sosial.

Justru sebaliknya. Mereka adalah heavy consumers. Menonton, membaca, mengikuti tren, menyimak percakapan, lalu berpindah dari satu konten ke konten lain selama berjam-jam. Ditambah gim yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka.

Mereka mungkin berhenti menjadi produsen, tetapi tetap menjadi konsumen kelas wahid.

Di sinilah cara kita membaca media sosial ikut berubah. Generasi sebelumnya terbiasa menunjukkan kehidupan. Like, komentar, unggahan dan interaksi terbuka menjadi ukuran keterlibatan.

Gen Z tidak selalu demikian. Mereka bisa menonton tanpa menyukai. Membaca tanpa berkomentar. Mengikuti perdebatan tanpa ikut berdebat.

Bagikan: