Di situlah saya merasa sedang berdiri di tengah sebuah paradoks.
Kabupaten Banggai kini memiliki gedung perpustakaan baru yang megah. Nilai pembangunannya mencapai sekitar Rp11 miliar. Bangunannya indah, modern, dan tentu membanggakan. Siapa pun tentu patut mengapresiasi hadirnya infrastruktur publik seperti ini.
Namun pertanyaan yang mengusik pikiran saya sederhana, apa arti sebuah perpustakaan yang megah jika karya-karya sastra yang telah menjadi bagian penting dari peradaban membaca justru belum tersedia?
Saya kemudian kembali bertanya kepada petugas. Mereka menjelaskan bahwa sebenarnya tahun ini ada rencana pengadaan buku, tetapi terkendala kebijakan efisiensi anggaran.
Jawaban itu mungkin benar adanya. Namun sebagai warga, saya tetap merasakan ironi yang sulit diabaikan.
Kita mampu membangun gedung bernilai miliaran rupiah, tetapi belum mampu menghadirkan koleksi yang menjadi napas kehidupan gedung tersebut.
Padahal sebuah perpustakaan tidak pernah diukur dari kemegahan bangunannya. Ia diukur dari seberapa jauh mampu mempertemukan masyarakat dengan gagasan-gagasan besar.
Pramoedya Ananta Toer bukan sekadar novelis. Melalui tetralogi Buru, ia mengajak pembaca memahami sejarah, kolonialisme, nasionalisme, dan martabat manusia.
