Oleh: Supriadi Lawani
Beberapa hari lalu saya berkunjung ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Banggai. Rasa penasaran membawa saya langsung menuju rak yang paling ingin saya lihat: rak sastra.
Bagi saya, perpustakaan bukan sekadar bangunan yang dipenuhi meja, kursi, pendingin ruangan, atau rak-rak yang tersusun rapi. Jantung sebuah perpustakaan adalah buku. Dan jantung dari koleksi buku itu, bagi banyak orang, adalah sastra. Di sanalah manusia belajar memahami sejarah, kekuasaan, cinta, kemiskinan, pengkhianatan, dan harapan.
Saya mulai menyusuri rak demi rak.
Saya mencari tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Tidak ada.
Saya mencari Cantik Itu Luka dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan. Tidak ada.
Saya kemudian berharap menemukan Animal Farm atau Nineteen Eighty-Four karya George Orwell. Hasilnya tetap sama, tidak ada.
Saya terus mencari beberapa karya sastra penting lainnya. Jawabannya tetap satu, tidak ada.
Merasa penasaran, saya bertanya kepada petugas perpustakaan. Mereka dengan ramah menjelaskan bahwa jika buku yang saya cari tidak tersedia di rak, saya bisa mencarinya melalui aplikasi perpustakaan digital.
Saya pun membuka aplikasinya.
Hasilnya membuat saya kembali menghela napas. Buku-buku yang saya cari ternyata juga tidak tersedia dalam koleksi digital.
