Berdasarkan laporan awal tim medis dan lapangan, gejala diare diduga muncul setelah siswa mengonsumsi susu dalam kondisi perut kosong atau sebelum menyantap makanan utama. Produk susu tersebut diketahui berasal dari dapur SPPG Yayasan Batara Annajah di Desa Baka.
Namun demikian, sejumlah pihak menilai penjelasan awal tersebut belum cukup menjawab pertanyaan publik mengenai standar distribusi dan edukasi konsumsi pangan kepada siswa. Jika prosedur pemberian nutrisi telah diatur, maka muncul pertanyaan mengapa pola konsumsi yang berisiko masih terjadi di lapangan.
Satgas MBG menyatakan tengah melakukan evaluasi menyeluruh, meliputi peninjauan rantai pasok dan penyimpanan produk, pengetatan SOP pemberian nutrisi, serta pemeriksaan ulang higienitas dapur penyedia makanan.
Pemerintah daerah menegaskan program MBG tetap bertujuan meningkatkan kesehatan siswa. Namun, kejadian berulang menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada niat baik kebijakan, melainkan pada disiplin pengawasan, standar operasional yang konsisten, dan akuntabilitas pelaksana di lapangan.
Masyarakat diimbau tetap menunggu hasil investigasi resmi. Di sisi lain, transparansi dan evaluasi terbuka menjadi tuntutan yang kian menguat agar program peningkatan gizi tidak justru berubah menjadi risiko kesehatan bagi anak-anak di Banggai Kepulauan. (Alin)
