Kemampuan menamai emosi dipercaya dapat mengurangi kecenderungan anak meluapkan perasaan secara berlebihan. Orang tua pun lebih mudah memahami kebutuhan emosional anak.
6. “Bolehkah saya bantu?”: Menumbuhkan empati
Ungkapan ini mengajarkan anak untuk peduli terhadap orang lain dan tidak hanya berfokus pada dirinya sendiri.
Selain meningkatkan empati, kebiasaan membantu juga membuat anak merasa dirinya berguna dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
7. “Saya bahagia”: Membangun citra diri yang positif
Pernyataan positif seperti “saya bahagia”, “saya bangga pada diri sendiri”, atau “saya anak yang baik” membantu memperkuat kepercayaan diri.
Psikolog menyebut kebiasaan self-talk positif dapat membantu menyeimbangkan kecenderungan otak yang lebih mudah mengingat pengalaman negatif dibandingkan pengalaman menyenangkan.
Kata-kata Kecil, Dampaknya Besar
Membiasakan tujuh ungkapan tersebut tidak hanya membentuk cara anak berbicara, tetapi juga membantu membangun karakter yang penuh rasa syukur, tanggung jawab, empati, dan optimisme.
Peran orang tua menjadi sangat penting karena anak umumnya belajar melalui contoh yang mereka lihat setiap hari. Ketika lingkungan keluarga konsisten menggunakan bahasa yang positif, anak pun lebih mudah menirunya hingga menjadi kebiasaan yang terbawa sampai dewasa.(rbp)
