Di sisi lain, perusahaan sebelumnya menyatakan tengah menyiapkan transisi menuju produksi blue ammonia melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Teknologi tersebut diharapkan mampu menangkap sebagian besar emisi karbon yang dihasilkan proses produksi amonia berbasis gas alam.
Namun realisasi proyek CCS tersebut diproyeksikan baru berlangsung dalam rentang 2027 hingga 2030.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai bagaimana pengelolaan emisi dilakukan selama masa transisi tersebut berlangsung.
“Jika emisinya mencapai jutaan ton per tahun, maka tanggung jawab pengelolaannya juga harus setara. Publik berhak mengetahui sejauh mana mitigasi yang dilakukan dan bagaimana efektivitasnya,” kata Nadjamuddin.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan industri di era krisis iklim tidak lagi cukup diukur dari besarnya investasi, nilai produksi, atau kontribusi pajak semata. Aspek keberlanjutan lingkungan harus menjadi ukuran yang sama pentingnya.
“Jangan sampai daerah memperoleh manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi menghadapi biaya lingkungan yang jauh lebih besar pada masa mendatang,” tandasnya.
