BANGGAIPOST, BALANTAK UTARA โ Banjir yang kembali menerjang Desa Pangkalasean dan wilayah sekitarnya memunculkan berbagai dugaan serius terkait penyebab utama bencana tersebut. Selain faktor curah hujan tinggi, sorotan publik kini mengarah pada aktivitas industri yang diduga telah merusak keseimbangan lingkungan di wilayah hulu.
Sejumlah warga menilai, banjir yang terjadi bukan lagi sekadar bencana alam biasa. Intensitas dan dampaknya disebut semakin meningkat dari tahun ke tahun, bahkan terjadi lebih cepat setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Berdasarkan informasi yang berkembang di lapangan, aktivitas dua perusahaan tambang material, yakni PT Teku Sirtu Utama dan PT Balantak Sirtu Utama (BSU), menjadi perhatian utama masyarakat. Keduanya diduga beroperasi di sekitar daerah aliran sungai serta kawasan hutan penyangga.
Warga menduga, kegiatan pengerukan material dan pembukaan lahan telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup signifikan.
Hutan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air kini berkurang, sementara sedimentasi di sungai meningkat akibat aktivitas tambang. Kondisi ini diyakini mempercepat meluapnya air ke permukiman saat hujan turun.
โSekarang hujan sedikit saja, air langsung naik. Dulu tidak seperti ini,โ ungkap salah satu warga, menggambarkan perubahan kondisi lingkungan yang dirasakan.
