Iklan Banggai Post
Opini

Cinta Nabi Bukan Hanya di Bibir

Di sinilah barangkali kita perlu jujur melihat cara kita beragama.

Kita terkadang terlalu sibuk membicarakan agama, tetapi lupa menghidupkan nilai-nilai agama dalam kehidupan. Kita rajin berbicara tentang Nabi, tetapi belum tentu rajin meniru kesabarannya.

Kita marah ketika ada orang menghina Nabi, tetapi tidak selalu merasa bersalah ketika kita sendiri menyakiti, menipu, merendahkan, atau mengambil hak orang lain.

Kita sangat menjaga kehormatan nama Nabi, tetapi kadang lupa menjaga nilai-nilai yang diperjuangkannya.

Padahal, agama bukan hanya tentang bagaimana seseorang terlihat saleh di hadapan manusia. Agama seharusnya menjadikan manusia lebih jujur ketika tidak ada yang melihat, lebih adil ketika memiliki kekuasaan, lebih lembut ketika sedang marah, dan lebih takut mengambil hak orang lain.

Mungkin karena itu, ukuran cinta kepada Nabi bukanlah seberapa sering kita mengucapkan, “Aku mencintai Rasulullah.”

Ukuran yang lebih jujur adalah:

Apakah karena mencintai Nabi, kita menjadi manusia yang lebih baik?

Apakah kita lebih jujur? Lebih adil? Lebih amanah? Lebih sabar? Lebih mampu memaafkan? Lebih menghormati manusia lain?

Sebab cinta yang hanya tinggal di bibir adalah suara. Tetapi cinta yang masuk ke dalam qalbu akan menjelma menjadi akhlak.

Bagikan: